pelitapapua.com

Merayakan Perdamaian

Berita Utama Sosial Politik

Bupati Merauke Melepas Kapal Bantuan Kemanusiaan ke Distrik Wan.

Bupati Merauke foto bersama usai menyerahkan bantuan[1]

MERAUKE, PELITA PAPUA.COM – Bupati Merauke, Frederikus Gebze, SE, M.Si disela-sela kesibukan mengantisipasi penyebaran covid 19 dan membagi bantuan kepada warga terdampak covid 19 di Merauke. Dia melepaskan sebuah kapal kayu membawa bantuan kemanusiaan  bagi warga 11 Kampung di Distrik Waan, Kabupaten Merauke, Propinsi Papua.

Kapal bantuan kemanusiaan itu mengangkut  70 ton beras, 1.100 karton mie instan dan enam koli pakaian layak pakai. Batuan  itu membantu warga 11 Kampung di Distrik Wan yang belum lama ini dilanda Banjir Rob.

“Bapak Kepala Distrik, saya menyerahkan secara simbolis beras 70 ton, 1.100 karton mie dan enam koli pakaian layak pakai.  Saya berharap bantuan ini bisa membantu saudara kita disana dan kapal berlayar lancar sampai di Distrik Wan,” katanya sambil menyerahkan secara simbolis bantuan itu kepada Kepala Distrik Wan, Efraim Esebius Gebze  di Pelabuhan Rakyat Pintu Air Merauke, Jum’at (4/4/2020)  siang.

Kepada media, bupati Merauke yang didampingi penjabat teras Merauke menjelaskan, banjir rob yang melanda warga 11 Kampung di Distrik Wan itu sering terjadi setiap tahun. Bantuan ini menjawab kebutuhan warga disana pasca dilanda banjir rob. Ini sesuai koordinasi antara Pemda dengan Distrik dan aparat kampung. Sumber biaya bantuan ini bersumber dari alokasi dana APBD Kabupaten Merauke.

“Saya berharap kapal yang membawa bantuan ini berjalan lancar dan segera tiba di Wan. Sehingga, warga disana cepat terbantu,” harapnya.

Menjawab media ini ketika ditanyai soal banjir rob itu sering kali terjadi setiap tahun. Apakah Pemda Merauke ada rencana matang membuat tanggul pengaman bagi warga di sana?” Dia menjelaskan, warga 11 kampung itu menetap di pesisir pantai dan dipengaruhi angin barat. Siklus pelayanan pemerintahan disana praktis berjalan hanya empat bulan dalam setahun. Selebihnya, musim hujan sepanjang tahun.

“Itu kondisi rilnya. Distrik Wan ini memang salah satu distrik yang sulit dijangkau. Bagi pemerintah merencanakan seperti itu membutuhkan studi yang matang. Selain membutuhkan biaya besar, kesulitan lain mendorong bahan bangunan kesana harus direncanakan secara seksama,” jelasnya.

Sisi lain, katanya pemerintah mesti studi matang dari sisi topografi, kultural warga setempat dan kebiasaan hidup masyarakat sehari-hari. “Ini membutuhkan studi yang matang. Tetapi saya percaya saudara saya disana mereka sudah sangat bersahabat dengan alam setempat. Jadi mereka tahu bagaimana mensiasati kondisi alam seperti itu,” jelasnya.

Meski demikian, dia menyampaikan, kalau pun pemerintah berencana memindahkan mereka. Pendekatan seperti itu membutuhkan dialog dari hati ke hati dengan warga 11 kampung itu. Mengapa? Karena, warga disana sudah hidup turun temurun di tempat itu. 

“Itu yang saya sampaikan butuh studi matang dari sisi antropologi, sosiologi, dan kebiasaan hidup mereka sehari-hari. Saya kira seperti itu ya,” katanya. (Del)   

 

 

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *