pelitapapua.com

Merayakan Perdamaian

Berita Utama Tokoh

Covid 19 Uji Pemimpin Dunia dan Daerah Bersahabat Dengan Rakyat & Tuhan.

Tokoh Papua Selatan, Drs. Johanes Gluba Gebze sedang berdiskusi dan memberikan pernyataan soal Covid 19 tampak dalam gambar[1]

ANGIN sepoi-sepoi mengelus lembut menemani percakapan dan gelak tawa kami dengan salah satu tokoh masyarakat wilayah selatan Papua. Dia lagi santai dan duduk menyendiri di bawah pohon rindang beralaskan bangku tanpa diskap. Ada sebuah meja  yang sama tak tersentuh gergaji listrik tersedia.

Meski demikian, suasana di tempat itu sangat menyenangkan. Bahkan,  sang mentari pun hari itu enggan bersinar, laksana sedang bermesran dengan awan gelap. Suasana itu  menjadi saksi gelak tawa kami menggelegar liar.

“Bapa Jhon selamat jumpa. Maaf, kita berjabatan tangan ala Corona Virus Disease (Covid 19) saja bapa,” kata rekan-rekan wartawan serempak bagai koor dan disahutnya seraya  berkata: “Ya, ya…, silahkan duduk!”

“Kalian dari mana. Tumben bergrombolan?,” sapanya mencairkan suasana. “Biasa..!  Bapa Jhon, keliling kota!  Biasanya, kami haus minum kopi selalu menuju kesini,” kata salah satu rekan wartawan sekenanya dan disahut: “Ya…., saya juga sudah memesan kopi.  Ayo, pesan kopinya!,” ajaknya ramah.

Awal diskusi,  kami hanya membahas seputar selera minum kopi. “Bapa Jhon! Kita yang selera menyeruput kopi ini.  Seolah-olah, minum kopi bisa melepaskan kita  dari sangkar permasalahan. Kopi membawa kita membumbung tinggi ke surga imajinasi,” kata saya mengalihkan topik diskusi.

“Tergantung, masalahnya seperti apa! Siapa yang mengira masalah Covid 19 sedasyat ini?” Ribuan manusia seantero dunia meregang nyawa. Nanti, lihat, ekonomi dunia bisa hancur gara-gara Covid 19 ini. Di Indonesia, saya ikuti sudah ratusan meninggal,” sergahnya retoris.

“Bapa, bapa  permisi! Silahkan minum kopinya. Nanti.., kalau kurang gulanya bilang ya,” kata ibu pemilik warung mengusik obrolan yang mulai menghangat.  “Saya mendengar sanggahan dan pernyataannya, giliran terkejut! Saya berpikir sudah berhasil memancing diskusi lebih jauh.” Sejenak, dia menarik nafas panjang sambil berpikir. Rupanya, dia mengetahui arah dan isi pikiran saya.

Tiba-tiba, suaranya menggelegar.  “Ingat! Saat ini, semua pemimpin dunia, termasuk Indonesia sampai daerah-daerah sedang di Fit And Proper Test oleh Covid 19. Covid 19 sedang menggiring mereka bersahabat dengan rakyat,” kata bapa Jhon panggilan akrab salah satu tokoh wilayah selatan Papua, Drs. Johanes Gluba Gebze, di Warung Makan Milik Orang Menado, Jum’at (17/4/2020) lalu.

Jhon memandang rekan-rekan wartawan dengan mata bercahaya dan wajah berseri-seri, laksana seorang guru menemukan para murid yang cakap. “Baik, baik! Corona sedang menguji semua pemimpin dunia. Pemimpin dunia sibuk mengatur anggaran belanja membeli alat pelindung diri dan obat-obatan. Di Indonesia sampai Merauke pun sama. Lihat di daerah, mereka sedang sibuk membagi sembako. Artinya apa?” katanya retoris.

Menurutnya, Covid 19 membawa pemimpin dunia dan daerah  mengembalikan apa yang menjadi milik dan hak rakyat.  Contoh  bagi-bagi Sembako kepada rakyat. Mereka diuji melayani rakyat dengan jujur atau tidak.

“Covid 19 ini  membuat orang semua disiplin diri. Semua bersimpuh dan berdoa sambil berharap  masa sulit ini cepat berlalu. Mereka yang suka menikmati kenikmatan dunia semua berpantang. Setia tinggal di rumah dan menjalani instruksi pemerintah Social Distancing” ujarnya.

Bagai gayung disambut, salah satu rekan wartawan menyambung. “Itu betul bapa Jhon. Para pemimpin itu banyak yang berbicara setinggi langit, tetapi hidup mereka hanya seperti genangan air. Banyak dari mereka yang mengangkat kepala setinggi puncak gunung, tetapi jiwa mereka masih terperangkap dalam ambisi dan egoisme pribadi,” katanya bak penyair.

Di salah satu sudut meja, segelas kopi salah satu rekan wartawan tinggal hanya ampas kopi di pantat gelas. Meski begitu, rekan-rekan tidak ada yang beranjak pamit. Semua setia mendengar pernyataan selanjutnya.

Dia menyampaikan, semua pemimpin dunian termasuk Indonesia sampai daerah sedang berjibaku mencegah dan memutus mata rantai penyebaran Covid 19 ini. Meminimalisir dampak buruk yang akan terjadi dalam percaturan ekonomi dunia. 

“Saya menilai para pemimpin dunia termasuk Indonesia sedang diuji melakukan hal terbaik bagi negara dan bangsanya atau tidak. Mereka selalu bermain dengan angka. Tetapi, mereka jarang bermain dengan jiwa mereka,” ujarnya.

Dia juga menyinggung para pemimpin dunia lupa terhadap kuasa Tuhan. Covid 19 ini mengingatkan para pemimpin bagaimana Tuhan bertindak dan mengingatkan mereka sudah bersahabat dan melayani rakyat atau bangsanya dengan baik atau tidak.

“Kita lihat sekarang yang jadi korban itu rakyat kecil atau orang-orang berduit. Ingat! Sehebat apapun pemimpin dunia saat ini, ada yang mati tidak ada yang kunjungi memberi hormat. Semua orang termasuk keluarga sendiri takut terjangkit Covid 19. Mati sia-sia dan tidak ada harga apa-apa,” ujarnya.  

Pernyataan mantan bupati Merauke dua periode ini menyebut pemimpin dunia lupa bermain dengan jiwa mereka. Mengingatkan memori media ini soal kehampaan hidup dan jauh dari merawat jiwa sebagaimana yang dikatakan seorang sufi dari Libanon, Kahlil Gibran.

Kahlil Gibran menyebut esensi jiwa adalah ibarat sebuah lilin yang bisa menerangi kegelapan malam. Ketika ditarik garis lurus antara pernyataan Jhon Gluba Gebze dan Kahlil Gibran soal esensi jiwa. Keduanya hendak mengingatkan semua orang atau para pemimpin dunia bisa menjadi sebuah lilin yang bercaya menerangi kegelapan hidup manusia. Ibarat sebuah lilin yang bisa menghalau kegelapan Covid 19 saat ini.

Covid 19 Mengajarkan Manusia Hidup Sederhana…,

Saking asyiknya, saya sempat diam dalam hening, sambil menyulut sebatang rokok dan meneguk kopi meransang saraf pendengaran dan ingatan. Kuaitir kalau-kalau pernyataan tokoh yang sering berbaur dengan tarikan nafas rakyat kecil ini terlewatkan.

Dia menegaskan, dampak Covid 19  sudah mula terasa. Dampak itu sedang mengajarkan semua orang hidup sederhana. Ia mencontohkan, persedian stok gula, minyak goreng sudah mulai hilang dari peredaran dan harga merangkak naik.

“Saya beberapa hari lalu mengajarkan orang-orang di rumah menggoreng sayur kangkung dengan mentega. Goreng sepuluh butir telur juga dengan mentega. Rasanya enak sekali. Dari pada sulit mencari minyak goreng ya pakai mentega, lebih enak dan hemat lagi,” sarannya.

Tiba-tiba, ia juga menyebut kondisi pandemi saat ini membuat pemerintah diberbagai negara dilema. “Tidak ada yang bisa memprediksi kapan badai ini berlalu. Semua resah! Siapa  yang bisa memastikan harga diseluruh APBN dunia yang bisa menghitung jumlah pasti uang untuk menangani Covid 19?”

“Siapa yang sekarang jadi ahli prediksi? Kalau komentator memang kita surplus, tetapi yang melakukan kerja nyata dan menempatkan orang-orang yang terkena imbas mendapat perhatian dalam posisi terdepan belum ada,” katanya.

Tuhan Adalah Sang Waktu ….,

Pada saat, tokoh yang memekarkan Merauke menjadi empat kabupaten ini menyebut Tuhan adalah sang Waktu. Saya terperanjat sambil memandang sang matahari mulai perlahan-lahan berwarna kemerhan menuju peraduan. Dan para wartawan mulai gelisah dengan waktu mengetik berita.

Berbeda, saya malah terhanyut mengingat beberapa larik syair: “Diam dalam hening menanti malam dengan kesabaran akan merasakan kelembutan malam dari sang waktu. Bagi mereka yang mencintai terang adalah kekasih dari cahaya.”

Setidaknya, seirisan dengan pernyataan Jhon, Tuhan adalah sang waktu. Artinya Tuhan, kata Jhon sedang meminta waktunya. Karena, Tuhan sudah menyediakan waktu kepada seluruh bangsa yang sudah tidak terhitung. Kita tidak bisa menghitung kapan Tuhan kasih waktu. Dan waktu adalah Tuhan itu sendiri.

“Jadi Tuhan sudah memberikan waktunya kepada umat manusia. Dan Tuhan sedang meminta waktunya kembali, karena Dialah sang waktu itu sendiri. Tuhan hadir dalam hidup kita melalui waktunya. Apa yang Tuhan tidak pernah kasih untuk kita?” katanya menggugat.

Mengakhiri pernyataannya, Jhon menyampaikan, Covid 19 yang menyebar seantera dunia sebagai pengingat bagi manusia untuk saling memperhatikan. Covid 19 membuat manusia tidak ada nilai apa pun. Artinya, Covid 19 sedang mengingatkan manusia saling menghargai dan memberikan waktu untuk Tuhan.

“Bayangkan, manusia mau perdana mentri, presiden atau raja sekalipun. Kalau covid 19 sudah serang, hidup dalam ruang isolasi, keluarga tidak ada yang mengunjungi atau pergi menghormati dia. Mati, hanya petugas Covid 19 yang tangani sampai ke kuburan. Maka jangan coba-coba mengabaikan waktu untuk Tuhan dan mengabaikan saudaramu,” ajaknya.

Dia mengingatkan, ketika setiap orang menghargai sesamanya. Maka air mata sesama yang tercucur itu tidak pernah tahu sumbernya dari mana. Rawatlah nilai hakiki yang sudah lama terabaikan seraya mempersembahkan hidupmu kepada Tuhan***(Fidelis S. Jeminta)

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *