pelitapapua.com

Merayakan Perdamaian

Berita Utama

Dibantah Warga Petani Tak Diperhatikan.

Kepala Dinas Pertanian Merauke, Ratna Lauce sedang memberikan keterangan pers kepada awak media membantah dinas pertanian tidak memperhatikan warga petani sebagaimana tampak dalam gambar.

MERAUKE, PELITA PAPUA.COM – Kepala Dinas Pertanian Merauke, Ratna Lauce membatah Dinas Pertanian tidak memperhatikan keluhan para petani soal perubahan instruksi Bulog dari biasa membeli beras berubah  membeli Gabah Kering Giling (GKG) dari tangan petani.

“Kami perlu mengklarifikasi dan membantah berita yang dipublikasikan salah satu media online menyebut dinas pertanian cuek terhadap keluhan para petani. Siapa yang bilang kami cuek,” katanya kepada awak media usai rapat penetapan harga GKG di ruang rapat Lantai II Kantor Bupati Merauke, Selasa (28/4/2020).

Dia mengaku Dinas Pertanian Merauke sedang berupaya mencari solusi perubahan instruksi Bulog itu dengan mensosialisasikan instruksi itu kepada warga petani dan mengkomunikasi hasil pertemuan itu dengan bupati merauke.

“Pemerintah daerah justeru sedang memfasilitasi dan mencari solusi yang tepat supaya para petani dirugikan akibat dari perubahan instruksi Bulog tidak lagi membeli beras melainkan membeli GKG dari tangan petani oleh mitra Bulog,” akunya.

Menurut Ratna perihal  perubahan instruksi Bulog membeli GKG dari tangan petani oleh mitra Bulog tidak semudah apa yang dibayangkan. Diakuinya beruntung rapat lintas sektor ini bisa menghasilkan beberapa rekomendasi yang bisa ditelisik secara cermat menguntungkan para petani.

“Saya sangat senang hasil rapat hari ini semakin jelas dan menguntungkan para petani sebagaimana yang dikatakan pak Marlan dalam rapat. Rens harga GKG kotor 4.300 rupiah dan GKG bersih 4.500 rupiah dari tangan petani, petani diuntungkan. Walau perwakilan petani meminta selain GKG juga membeli beras,” katanya.

Pada saat yang sama, dia menjawab media soal keluhan warga petani masalah alsintan. Dinilainya para petani seharusnya bisa mandiri. Pemerintah sudah menyediakan alsintan bersamaan dengan bengkel alsintan untuk memperbaiki alsintan yang rusak.

“Saya ambil contoh ya. Mesin Jonder yang rusak tidak perlu lagi mengadu ke Dinas Pertanian dan meminta bantuan soal itu. Warga khan bisa menyewakan jonder itu. Hasilnya bisa dikumpulkan untuk memperbaiki bilamana ada kerusakan. Khan tak bisa ke kami lagi soal-soal seperti ini,” ujarnya.

Ketika didesak media soal masalah harga mengapa selalu Dinas Pertanian tidak mengantisipasi untuk memproteksi warga petani masalah harga sebelum pasca panen?”

Dia mengaku masalah serupa itu masalah bawaan sebelumnya. Sementara pihaknya mengaku  baru seumur jagung di Dinas Pertanian Merauke.

“Maaf, saya kira itu masalah bawaan tahun lalu. Saya ini baru dilantik Desember, jadi orang baru di Dinas pertanian alias masih seumuran jagung,” katanya. (Del)

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *