pelitapapua.com

Merayakan Perdamaian

Berita Utama Kesehatan

Serpihan Kasih Dibalik 2.000 Masker Covid 19.

Bupati Merauke, Frederikus Gebze sedang mengenakan masker kepada seorang bocah asal Kimaam pada saat membagika masker kepada warga di Pelabuhan Rakyat Kelapa Lima Merauke sebagaimana tampak dalam gambar.

CUACA sekitar pukul 10.25 di Pasar Wamanggu Merauke, Rabu (29/4/2020) sangat bersahabat. Warga pedagang Pasar Wamanggu pada terkejut dan tersipu malu menerima masker dari tangan Bupati Merake , Frederikus Gebze, Asisten III Setda Merauke, Jacobus Duwiri dan para pejabat teras lainnya serta staff bupati Merauke.

“Bapa…, dan mama mama pakai masker ya! Supaya, kita terlindung dari penyebaran Covid 19,” sapanya ramah sambil mengajak warganya menjaga jarak aman setiap kali berada di Pasar dan di tempat keramaian.

Mendengar sapaan dan ajakan itu,  giliran media ini diam sejenak. Memotret sesuatu yang unik dari nilai-nilai dibalik pembagian masker itu ditengah riuh rendahnya suara warga pedagang Pasar Wamanggu.  “Pa bupati…, terima kasih maskernya,” seru warga disahut bupati: “Biasakan diri pakai masker ya.”

Di pintu masuk utama Pasar Wamanggu, Fredy panggilan akrab bupati Merauke, Frederikus Gebze sempat mengelus-elus lembut kepala seorang bocah perempuan sambil berbincang santai dengan seorang mama paruh baya. Sepertinya mama dari bocah perempuan yang dielus kepalanya.

“Pa bupati…, pasar sepih pembeli,” kata mama itu disahut bupati: “Mama…,  kita berdoa bersama-sama  ya masa sulit Covid 19 ini cepat berlalu.”

Jejak-jejak percakapan santai, polos nan lugu itu,  terpancar serpihan kasih dari  kedalaman jiwa yang rela meninggalkan singgasana jabatan. “Mama mama…, minta maaf. Hari ini, saya hanya bagi-bagi masker,” katanya polos bernada memelas dan disahut mama itu: “Terima kasih pa bupati! Tidak apa apa.”

Bupati Merauke, Frederikus Gebze sedang menggendong seorang bocah perempuan yang lagi memegang erat dasi pada saat menyapa warga asal Asmat dan membagikan masker sebagaimana tampak dalam gambar.

Media ini  mencatat bupati Merauke dan staffnya membagikan Masker di Pasar Wamanggu diperkirakan seribu lebih masker. Dan di pintu masuk pelabuhan utama Merauke diperkirakan terbagi 200 lebih masker bagi buruh pelabuhan Merauke.

Selain itu, media ini memandang bupati Merauke tidak hanya membagikan masker. Dia juga memborong nasi kuning yang dijajakan seorang ibu dengan motor dan dibagikan sendiri kepada 50 puluhan lebih buruh pelabuhan.

“Maaf ya kalau yang lain tidak kebagian, jangan marah! Nasi kuningnya sudah habis,” katanya sambil menyelipkan sesuatu pada tangan seorang pemuda yang membisik sesuatu pada telinganya, entah apa yang dibisik.

Dari pintu masuk pelabuhan Merauke, Bupati Merauke bersama rombongan menuju ke Pelabuhan Rakyat di Kelapa Lima Merauke. Disitu, dia berjumpa dengan warga asli Papua dari Kimaam, Mappi dan Asmat, sekitar ratusan dari orang tua hingga anak-anak.  

Dia selain membagi masker juga membagikan sprite,  teh kotak, teh botol dan air mineral kepada anak-anak serta orang tua. “Ini apa dan fungsinya untuk apa?” tanyanya kepada anak-anak itu dan disahut serempak: “Masker untuk halau Corona,” mantap sambungnya.

Dari Pelabuhan Rakyat Kelapa Lima Merauke, bupati dan rombongan bertolak menuju Pantai Lampu Satu menikmati semilir angin laut sekedar melepaskan lelah sekitar satu stengah jam. Dari sana, bertolak menjumpai warga Pantai Kasuari, asal Asmat yang sudah lama menetap di Merauke.

Bupati Merauke, Frederikus Gebze sedang membagikan biskuit kepada anak-anak asal Asmat pada saat membagikan masker di kawasan pemukiman warga Pantai Kasuari asal Asmat sebagaimana tampak dalam gambar.

Menggendong Bocah Perempuan Asal Asmat…,

Media ini agak tersentak.  saat melihat bupati Merauke menepuk-nepuk bahu seorang mama asal Asmat . Mama itu sedang menggendong anaknya berusia sekitar dua tahunan. “Mama…, maaf! Saya gendong anaknya. Saya kuatir nanti mama jatuh bersama anak ini,” pintanya.

Mama itu dengan riang gembira mempersilahkan bupati merauke menggendong anaknya.  Maklum, jembatan kayu penghubung dari ruas jalan menuju pemukiman warga Pantai Kasuari, asal Asmat itu. Jembatannya terbuat  dari potongan papan sudah pada lapuk dan hanya selebar satu meter di kawasan sebelah selatan  Lantamal XI Merauke.

Pertemuan yang menyenangkan! Ada sesuatu yang berbeda dalam silaturahmi  dengan warga Asmat itu.  Unik sekali, sorotan sinar mata anak-anak asal Asmat  tiada yang ragu dan takut. Laksana sahabat lama yang sudah lama tidak berjumpa.

Ditengah bupati Merauke sibuk berdialog dengan orang tua dan menyapa anak-anak usia sekolah. Anggota rombongan yang lain sibuk dengan tugasnya masing-masing membagikan masker.

Sebagian lain sibuk menguras isi kios seberang jalan membeli minuman ringan dan biskuit aneka rasa dan jenis. “Ayo semua berbaris rapi ya. Kita semua makan biskuit ramai-ramai,” ujarnya seraya membagi kepingan biskuit kepada anak-anak dan sesekali untuk makan sendiri mengundang anak-anak tertawa riang.

Adegan itu mewariskan keteladanan dalam sebuah pelayanan yang membuat kesempurnaan pada hasil yang dicapai. “Terserah orang lain menilai seperti apa. Saya memilih melayani  warga Merauke menjadi yang terbaik dalam hidup saya,” katanya singkat memotivasi.

Bupati yang memiliki selera humor yang bagus itu mengakuai kalau membagi serpihan kasih kepada sesama ibarat memancing nasib mengail rezeki. “Kita harus yakin setiap apa yang diserahkan tangan kiri tidak boleh diketahui tangan kanan akan mengalirkan rahmat yang banyak dalam hidup,” ujaranya*** (Fidelis.S. Jeminta)

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *