pelitapapua.com

Merayakan Perdamaian

Berita Utama Hukum & Ham

Betsy R. Imkota: Akui Tangani Kasus Dugaan Penganiayaan Oleh Pejabat 02 di Boven.

Keterangan Pers - Kuasa Hukum korban RR, Betsy R. Imkota, SH sedang memberikan keterangan pers dan memperlihatkan surat kuasa korban kepadanya sebagaimana tampak dalam gambar.

MERAUKE, PELITA PAPUA.COM – Ketua kuasa hukum dari lembaga bantuan hukum Pelita Kasih GPI Papua di Merauke, Betsy R. Imkota, SH didampingi pengacara Edwardus D. Sakthi,SH mengakui kalau kliennya berinisial RR yang diduga dianiya oleh oknum pejabat 02 berinisial CA di Boven  Digoel sudah menandatangani surat kuasa hukum kepada lembaga bantuan hukum Pelita Kasih.

“Korban yang menjadi klien kami sudah tanda tangan surat kuasa hukum secara sah kepada kami. Jadi, proses hukum terhadap pelaku berinisial CA tetap lanjut,” katanya dalam keterangan pers dihadapan wartawan pelitapapua.com, Jubi, Kumparan, Cepos, Papua Selatan Pos dan Merauke Citra Televisi, di kediamannya di Jalan Kampung Timur Merauke, Papua, Jum’at (30/4/2020).

Dia menjelaskan kronologi kasus kliennya dengan menanyakan yang bersangkutan. “Apakah kamu kenal, siapa yang memukul kamu” tanya Betsy panggilan akrab Betsy R. Imkota seraya menirukan jawaban kliennya: “Saya tidak kenal.”

Setelah itu, menurut pengakuan korban RR, kata Betsy posisi pada saat tim Satgas gabungan Covid 19 tiba di Kafe itu. Situasinya sunyi dan tidak ada akitivitas sama sekali. Di dalam Kafe korban hanya bersama tiga rekannya. Sementara, bos mereka sedang mencari makan. Namun, semua pintu pagar pada posisi tertutup.

Dari ceritera korban, lanjut Betsy tim satgas itu entah melompat lewat mana bisa masuk ke area halaman Kafe. “Saya mendapat cerita dari klien kami. Mereka bingung Satgas itu masuk lewat mana dan tiba-tiba mengetuk pintu utama Kafe dimana mereka bekerja,” kisahnya.

Betsy mengaku menirukan ceritera kliennya sama sekali tidak mengenal kalau yang mengetuk  pintu itu public figure di Boven Digoel.  “Begitu klien kami membuka pintu disambut dengan pukulan sampai jatuh,” katanya.

Setelah itu, Betsy kembali menirukan pernyataan kliennya, Publik figure Boven Digoel itu menanyakan korban: “Kamu kenal saya tidak! Nanti saya lapor kamu!” disahut korban: “Tidak kenal.” Lalu, korban bangun disambut dengan beberapa pukulan lagi hingga babak belur.

Lalu, publik figur itu,  kata Betsy lagi-lagi menirukan pengakuan korban  memperkenalkan diri. “Kalau kamu tidak mengenal saya. Saya adalah wakil bupati Boven Digoel. Jadi, Publik figure itu sendiri yang memperkenalkan dirinya sebagai wakil bupati Boven Diogel, Tapi benar atau tidak ya wakil bupati dalam tanda kutip” katanya meniru pernyataan korban dan publik figure itu.

Pada saat masuk itu, publik figure itu mengedor-gedor pintu dan korban membuka pintu disambut dengan pukulan. “Itu pengakuan korban ke saya. Dan kejadiannya tanggal 14 April lalu,” ujarnya.

Dikatakannya, setelah kejadian itu, korban merasa tidak nyaman karena dia mendapat telpon dari mana-mana. Lalu, korban mencari pengacara dan malam itu jug yang bersangkutan  menghubungi lembaga bantuan hukum Pelita Kasih.

“Saya dihubungi malam itu juga. Kalau saja saat ini tidak dalam kondisi Covid 19. Saya kesana mendampingi korban. Jadi saya meminta korban. Saya tidak bisa kesana dengan kondisi Covid 19. Kalau komunikasi saja lewat HP oke. Jadi, kami komunikasi lewat hp,” akunya.

Menurut pengakuan korban, kata Betsy korban diminta bertemu Kastreskrim Polres Boven Digoel. “Saya minta korban dipanggil dalam rangka apa. Boleh saja pergi, tetapi kamu tidak boleh diintimidasi. Saya sampaikan kepada dia.”

“Kamu itu warga masyarakat biasa dan yang kamu hadapi itu pejabat. Jangan sampai kamu tidak tahu dengan menggunakan segala macam cara untuk meminta berdamai. Kalau kamu mau berdamai silahkan,” katanya.

Korban mengaku kalau pendekatan jalur damai itu, kata Betsy sudah dilakukan. Namun, pejabat yang bersangkutan tidak mau dengan sejumlah permintaan dan persyaratan yang dimintai korban. Karena kondisinya seperti itu, korban menuju Merauke. 

“Korban sudah bertemu kami dan menandatangani surat kuasa dan dia sudah balik lagi ke Boven Digoel,” katanya sambil memperlihatkan surat kuasa korban kepada awak media yang sudah tertandatangani  kepada kuasa hukum Betsy R. Imkota, SH dan Edwardus D, Sakthi, SH.

Pada sisi lain, dia mengaku berdasarkan surat kuasa korban kepada Lembaga Bantuan Hukum Pelita Kasih. Disampaikannya, pihaknya membuat surat permintaan perlindungan terhadap korban yang ditujukan kepada Kapolres Boven Digoel dank e Pusat.

Juga ditembuskan kepada Gubernur Papua, Kapolda Papua, Komnas Perempuan, Irwasda Polda Papua, Ditreskrim Polda Papua, Karo SDM Polda Papua, Kabid Propam Polda Papua, dan Kasi Propam Polres Boven Digoel. “Surat ini kamu buat untuk memberi rasa aman kepada klien kami,” akunya.

Dia mengaku surat permintaan perlindungan terhadap korban yang dutujukan kepada Kapolres Boven Digoel dibawa sendiri korban untuk diserahkan sama Kapolres di Boven. “Yang lain-lain kami kirim melalui email masing-masing lembaga yang dituju,” katanya.

Menjawab media ketika ditanyai dari sisi yang berbeda sebagai aktivis perlindungan hak asasi perempuan, dia menegaskan, kejadian seperti ini sama sekali tidak bisa diterima. Pelakunya sebagai pejabat publik dan melakukan kekerasan dihadapan orang banyak terhadap perempuan.

“Saya sama sekali tidak bisa terima sebagai perempuan ya. Beliau itu publik figure yang seharusnya bias melindungi si korban. Saksi-saksi ada yang menyaksikan peristiwa itu, bahkan ada yang membuat video,” katanya.

Hingga berita ini dipublis, media ini sempat menghubungi via selulernya untuk mengkonfirmasi kebenaran kasus tersebut bersama publik figur 02 Boven Digoel ini. Namun, seluluer yang bersangkutan diluar jangkauan.

Media ini mencoba hubungi via WhatsAPP pada nomor yang sama meminta izin waktu diwawancara sambil memperkenalkan diri terkait hasil keterangan pers kuasa hukum yang menyebutkan kalau korban sudah menandatangi surat kuasa hukum kepada Lembaga Bantuan Hukum Pelita kasih.

Dari nomor WhatsAPP selulernya merespons: “Alo gaes, saya “Anwar Boven”saat ini sdg dalam perjalanan silahkan tinggalkan pesan anda untuk kami respon saat online. Maya ya gaes. Jangan lupa bahagia,” tulisnya.

Menanggapi respons itu media ini mengucapkan terima kasih pa wakil bupati atas respons baiknya sambil meminta membolehkan diganggu waktunya pa selama dalam perjalanan, terima kasih banyak. Permintaan media ini tidak direspons lagi hingga berita ini dipublis.

Sementara Kapolres Boven Digoel, AKBP Syamsurijal menjawab wartawan sebagaimana dishare hasil wawancara wartawan Jubi  kepada media ini ketika dikonfirmasi membenarkan korban sudah melaporkan kasus tersebut ke sentra layanan Polres Boven Digoel.

“Benar korban sudah melaporkan kejadian itu dan sedang dalam penyelidikan,” katanya kepada media melalui selulernya dalam wawancara itu dari Polres Boven Digoel, Jum’at (30/4/2020) siang.

Ketika ditanyai soal surat permintaan perlindungan terhadap korban dari kuasa hukum korban Betsy R. Imkota, dia mengaku belum menerima surat itu dan belum membaca. “Saya belum terima suratnya sampai sekarang dan belum membaca,” katanya.

Menyinggung tindak lanjut kasus tersebut, dia mengatakan, kasus itu akan direvitasi atau penyelidikan. Kalau buktinya cukup dinaikan  kepenyidikan.

“Kan tidak mungkin kalau tidak lengkap. Tahukan undang-undang KIP toh, ah undang-undang KIP itu Keterbukaan Informasi Publik. Dalam undang-undang itu ada yang dikecualikan diungkap kepublik.Termasuk adalah materi penyedikan dan penyidikan. Betul ada laporan penganiayaan, sudah ya, saya ada vikon. (Del) 

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *