pelitapapua.com

Merayakan Perdamaian

Berita Utama Hukum & Ham

Demo Plester Mulut Tuntut 7 Tapol Dibebaskan.

Sekitar 30 mahasiswa, pemuda dan warga masyarakat demo tuntut bebaskan tujuh tapol di Merauke,[1]

MERAUKE, PELITA PAPUA.COM – Sekitar 30 mahasiswa, pemuda dan masyarakat di Kabupaten Merauke menggelar demo dengan memplester mulut menuntut tujuh tahanan politik (Tapol) yang diadili di Pengadilan Negri (PN) Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim) dibebaskan dari jeratan hukum.

Dari pantauan pelitapapua.com 30 mahasiswa, pemuda dan warga masyarakat itu bergerak dari depan Gereja Katolik Mangga Dua, Kelurahan Kelapa Lima, Kabupaten Merauke, Propinsi Papua berjalan kaki menuju Kejaksaan Negri Merauke.

Tampak dalam aksi itu, mereka berjalan sambil memplester mulut dengan plakban hitam sebagai aksi bungkam. Mereka juga membentangkan sejumlah spanduk bertuliskan: “Bebaskan Tujuh Tapol Papua tanpa diskriminasi.”  Para aktivis itu didampingi seorang rohaniwan Katolik, Pastor Pius Manu, Pr.

Sekitar 150 meter dari arah barat Kantor Kejaksaan Negri Merauke, tepatnya di sekitar TMP Merauke, anggota pengamanan dari Polres Merauke sempat menghadang para mahasiswa itu dan meminta hanya perwakilan saja yang boleh bertemu Kajari Merauke.

Para demonstran tetap ngotot memasuki area Kantor Kejaksaan Negri Merauke. Akibatnya,  anggota dan para demonstran tidak terhindari dari aksi  saling dorong mendorong. Meski kejadian itu hanya terjadi beberapa menit dan para mahasiswa itu menyetujui permintaan anggota Polres Merauke.

Menurut koordinator lapangan (Korlap) I, Natalis Kuyaka yang didampingi Korlap II, Roni Rumboy mengaku aksi solidaritas itu menuntut dan meminta tujuh Tapol asal Papua yang diadili di Pengadilan Negri (PN) Balikpapan, Kaltim dibebaskan segera dibebaskan.

Dari sudut pandang para demonstran itu mengaku kalau dari kajian mereka ada banyak hal mengganjal dari tuntutan jaksa penutut dalam mengadili para Tapol tersebut. Sehingga, proses pengadilan terhadap tujuh Tapol itu tidak ada keadilan.

“Dalam audiens tadi, kami diberikan kesempatan menyampaikan tuntutan kami  bersama Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Merauke, I Wayan Sumertayasa. Sekaligus, kami menyerahkan pernyataan sikap yang berisi sejumlah poin penting yang harus segera diteruskan ke Kejati Papua untuk dilanjutkan ke Kejati Kalimantan Timur,” kata Kuyaka dan Rumboy bergantian.

Korlap I dan II ini mengaku sudah menyampaikan secara resmi kepada Kejari Merauke lima poin penting yang mereka tuntut. Kelima poin itu, antara lain, bebasan tujuh Tapol,  jangan lagi adanya diskriminasi dan pembungkaman terhadap aktivis maupun mahasiswa Papua, keadilan harus berpihak, perlunya pemerintah melakukan kajian  yang seimbang kalau memang salah dinyatakan salah atau benar dinyatakan benar. Dan pelaksanaan hukum di Indonesia tidak rasis terhadap orang asli Papua (OAP).

Kepada media Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Merauke, I Wayan Sumertayasa, dalam kesempatan itu menyampaikan terima kasih. Karena mahasiswa dan pemuda mendatangi kantor kejaksaan dengan baik dan siap beraudies dengan dirinya.

“Apa yang menjadi tuntutan akan segera diteruskan ke Kejati Papua hingga Balikpapan, Kalimantan Timur,” ujarnya. (Nuel)

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *