pelitapapua.com

Merayakan Perdamaian

Berita Utama Hukum & Ham Sosial Politik

Pencopotan Ketua DPD Nasdem Merauke Produk Rasis.

Ketua Pemuda Marind dan tokoh intelektual Marind sedang menyampaikan pernyataan sikap kepada awak media sebagaimana tampak dalam gambar.

MERAUKE, PELITA PAPUA.COM – Ketua Pemuda Marind dan intelektual Marind, Fransiskus Ciwe, SE menilai Keputusan pencopotan Ketua DPD Partai Nasdem Kabupaten Merauke yang juga Bupati Merauke,  Frederikus Gebze, SE, M.Si  merupakan produk berbau Rasis terhadap marga Gebze, Ndiken, Mahuze, Balagaize dan lain-lain.

“Frederikus Gebze itu selain Ketua DPD Nasdem.  Dia juga bupati aktif Merauke. Keputusan itu sangat  berbau rasis,  aneh, memalukan dan menelanjangi saudara kami diatas tanahnya sendiri,” katanya disambut tepuk tangan meriah puluhan pemuda Marind.

Pernyataan sikap Ketua Pemuda Marind dan Intelektual Marind ini didampingi puluhan pemuda dan intelektual Marind, di Ruangan Rapat Kantor Pemberdayaan Perempuan Kabupaten Merauke, Selasa (7/7/2020).

Menurutnya keputusan itu sangat tidak lazim dan diluar nalar yang sehat. Walau, produk keputusan rasis itu melalui internal partai. Keputusan tersebut tidak memberikan pelajaran politik yang sehat kepada masyarakat Marind.

“Kami memahami dan mengerti mekanisme organisasi. Lazimnya keputusan seperti itu melalui forum Musyawarah Daerah (Musda) partai. Katanya partai yang mengusung slogan  restorasi. Realitanya tidak memberikan pelajaran politik yang sehat dikalangan warga,” katanya.

Mereka juga beranalisa keputusan itu diboncengi kepentingan korporasi dan oligarki ekonomi kelompok tertentu. Karena. Kelompok ini sudah terang benderang tampil dipermukaan. Dulu, mereka bermain dibelakang layar.

“Kami paham keputusan tersebut hanya semata-mata demi kepentingan korporasi. Kami sangat kecewa mengapa keputusan itu terjadi dipenghujung masa kepemimpinan saudara kami. Kenapa tidak dari tahun-tahun lalu. Tidak ada cara lain yang lebih elegankah,” ujarnya.

Kelompok Pemuda Marind ini menilai Frederikus Gebze itu tidak hanya sebatas seorang bupati dan Ketua DPD Partai Nasdem Kabupaten Merauke. Dia adalah simbol Marind.

“Inilah yang dipersoalkan oleh pemuda Marind dan intelektual Marind. Jangan seenaknya dipermalukan, ditelanjangi dan dibunuh karakternya. Saya lihat ini banyak konspirasi  besar yang dimainkan dan kepentingan ekonomi serta korporasi.”

“Korporasi ini sudah bermain di ranah politik. Bahkan mereka sudah terang-terangan bermain sebagai aktor politik. Kami sebagai pemuda Marind mengutuk keras. Bukan Fredynya tetapi Gebze yang dipermalukan,” ujarnya diamini Pemuda Marind yang lain seraya berkata serempak: “Siap kutuk keras.”

Suasana rapat pemuda Marind dan intelektual Marind menyikapi pencopotan Ketua DPD Nasdem Kabupaten Merauke sebagaimana tampak dalam gambar

Mereka menilai cara-cara seperti ini seharusnya lebih elegan dan tidak mempertontonkan cara-cara yang tidak beradab  kepada publik. “Saya berharap kedepan tidak terulang lagi cara-cara seperti ini,” kata Sisko panggilan akrab Fransiskus Ciwe.

Dia menyampaikan itulah yang Pemuda Marind ingin katakan kepada seluruh warga Merauke. Terutama partai-partai politik yang sedang melakukan pentahapan rekrutmen calon bupati Merauke. Supaya pengurus partai-partai politik mengedepankan prinsip-prinsip demokrasi dan kesetaraan.

“Kita di Merauke ini kan sudah sepakat mengedepankan moto kabupaten Merauke “Izakod Bekai Izakod Kai” (Satu Hati Satu Tujuan). Sehingga slogan ini bisa bermakna dan tidak hanya selogan kosong, terutama para pengrus partai,” katanya.

Pada saat yang sama, Budayawan Papua asal Merauke, Isayas Ndiken meminta seluruh warga Merauke menghargai farian-farian adat masyarakat Marind yang hidup dalam filosofi hidup masyarakat Marind. Pernyataan budayawan Marind ini berkaitan dengan apa yang dialami Frederikus Gebze.

“Saya merasa peristiwa yang dialami saudara kami Frederikus Gebze sangat tidak manusiawi. Saya tidak melihat dari hak kesulungan. Tapi, saya melihat dari manfaat tanah ini. Manfaat tanah ini sudah berapa lama orang ambil. Herannya, mau masa jabatannya berakhir baru dicopot,” katanya.

Dikatakannya apa bila Frederikus Gebze itu ada kesalahan mengapa tidak diberi tahu. Dia tidak salah-salah amat. Bahkan, dia memberi andil yang cukup besar kepada partai Nasdem dengan perolehan lima kursi di DPRD Kabupaten Merauke. Dan Nasdem mendapatkan posisi Ketua DPRD Merauke. “Salahnya dimana,” ujarnya bernada tanya.

Dia menegaskan, calon Bupati Merauke 2021-2025 harus orang asli Marind, siapa pun dia. Pernyataan Isayas ndiken ini disambut dengan tepuk tangan meriah puluhan pemuda dan intelektual pemuda Marind.

“Saya sampaikan ini. Karena manfaat tanah ini harus bisa dimanfaatkan oleh anak-anak asli Marind bukan orang lain. Jangan ajari kami soal sopan santun. Orang disini tahu sopan santun. Karena ada yang menggunakan istilah sopan santun lagi. Itu yang saya lihat politik tahun ini sama sekali tidak sehat” katanya disambut tepuk tangan.

 Sementara, Martinus Mahuze menegaskan, marga yang disandang Frederikus Gebze itu simbol yang diturunkan Tuhan Allah kepada warga Marind dari Kondo sampai Digoel. Seperti halnya, marga Mahuze, Balagaize, Kaize, Basik-Basik, Ndiken dan lain.

“Jangan menelanjangi dan mempermalukan marga Marind diatas tanah kami sendiri. Semua marga yang ada diatas tanah Marind harus dihargai. Hanya satu orang asli Marind yang memimpin partai di tanah Marind ini, yaitu Frederikus Gebze. Kami merasa sangat tidak adil,” tegasnya disambut tepuk tangan.

Sisi lain, dia menyampaikan, calon bupati Merauke tidak bisa ditawar-tawar harus anak asli Marind.  Karena, pemuda Marind menilai masih ada beberapa partai yang belum menurunkan rekomendasi untuk anak-anak asli Marimd.

“Kami berharap partai-partai yang belum turunkan rekomendasi akomodir harapan pemuda Marind. Apa bila, partai-partai tersebut tidak berhasil memberikan SK kepada anak asli Marind. Maka gagalah Indonesia mengindonesiakan anak-anak Marind,” katanya.

Dikatakannya masih ada anak-anak negri Marind yang memiliki kapasitas untuk mempin di tanah Marind. “Kami berharap berikan penghargaan itu dipenghujung Otsus ini sebagai penghargaan kepada anak-anak Marid,” harapnya. (Del/Nuel)

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *